MATERI DASAR ROCK CLIMBING PDF

Title MATERI DASAR ROCK CLIMBING
Author Ahmad Dhurul Iza A
Pages 33
File Size 1.7 MB
File Type PDF
Total Downloads 89
Total Views 148

Summary

MATERI DASAR ROCK CLIMBING Oleh Dizaas I. SEJARAH ROCK CLIMBING Rock climbing merupakan salah satu bagian dari kegiatan Mountaineering yang paling penting, yang sangat memerlukan kecakapan mendaki tebing batu yang terjal, kemampuan dalam menganalisa yang tinggi, mental baja , serta ketahanan fisik y...


Description

MATERI DASAR ROCK CLIMBING

Oleh Dizaas

I. SEJARAH ROCK CLIMBING Rock climbing merupakan salah satu bagian dari kegiatan Mountaineering yang paling penting, yang sangat memerlukan kecakapan mendaki tebing batu yang terjal, kemampuan dalam menganalisa yang tinggi, mental baja , serta ketahanan fisik yang besar. Secara etimologis Rock Climbing terdiri dari dua kata yaitu Rock dan climbing. Rock berarti batuan dan Climbing berarti pemanjatan. Jadi Rock climbing yaitu teknik memanjat tebing batu dengan memanfaatkan cacat batuan, baik tonjolan maupun rekahan yang mempunyai kemiringan tebing lebih dari 70°.

II. Etika dalam Pemanjatan Pada dasarnya Pemanjat Tebing dimanapun itu paling alergi dengan peraturan-peraturan yang resmi. Inilah uniknya dari olahraga yang satu ini, Olahraga ini tidak membutuhkan aturan tertulis dibandingkan dengan olahraga yang lain. Namun pada perkembangannya ketika panjat dinding mulai berkembang menyamai olahraga panjat tebing alam sehingga diperlukan aturan yang tertulis. Untuk itu di bentuk aturan pertandingan yang `Fair` yang aturan tersebut dibuat dan disesuaikan dengan kondisinya. Maka diciptakan kata `Kode Etik` yang merupakan adaptasi dari kata `peraturan`. 2

Adapun isi Kode etik tersebut adalah sebagai berikut : Secara umum etika pemnjatan sama dengan etika – etika dalam penjelajahan alam lain : 1. Dilarang mengambil sesuatu kecuali gambar 2. Dilarang meninggalkan sesuatu kecuali jejak 3. Dilarang membunuh sesuatu kecuali waktu Secara khusus ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam etika panjat tebing adalah sebagai berikut : 1. Menghormati adat istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat. 2. Menjaga kelestarian alam. 3. Merintis jalur baru. 4. Memanjat jalur bernama. 5. Pemberian nama jalur. 6. Memberi keamanan bagi pemanjat lain

III. Definisi Panjat Tebing Panjat Tebing adalah Seni olahraga atau Hobi yang dilakukan dengan mengandalkan kelenturan dan kekuatan otot dan kecerdikan serta keterampilan baik menggunakan Peralatan maupun tidak dalam menyiasati tebing itu sendiri dengan memanfaatkan cacat batuan untuk memanjat mencapai Puncak Tertinggi.

IV. Kategori Tebing Berdasarkan Bentuknya    

Face Hang Roof Top

: Permukaan tebing yang berbentuk datar : Bentuk sisi miring pada tebing : relief tebing yang berbentuk seperti teras terbalik : puncak Tebing.

V. Pelaku dalam Pemanjatan  

Climber : Orang yang melakukan Pemanjatan Belayer : orang yang mengamankan pemanjat 3

VI. Motto Panjat Tebing   

Otak yaitu seorang pemanjat membutuhkan keterampilan khusus dalam penguasan tehnik-tehnik pemanjatan dan peralatan. Otot yaitu seorang pemanjat membutuhkan kekuatan khusus dalam pemanjatan dengan ini di butuhkan latihan-latihan seperti latihan fisik, beban dan senam kebugaran panjat tebing. Hoki yaitu keberuntungan dalam pemanjatan baik itu keselamatan maupun suksesnya pemanjatan.

VII. Teknik Pemanjatan a. Free Climbing Sesuai dengan namanya, pada free climbing alat pengaman yang paling baik adalah diri sendiri. Namun keselamatan diri dapat ditingkatkan dengan adanya keterampilan yang diperoleh dari latihan yang baik dan mengikuti prosedur yang benar. Pada free climbing, peralatan berfungsi hanya sebagai pengaman bila jatuh. Dalam pelaksanaanya ia bergerak sambil memasang, jadi walaupun tanpa alat-alat tersebut ia masih mampu bergerak atau melanjutkan pendakian. Dalam pendakian tipe ini seorang pendaki diamankan oleh belayer.biasanya digunakan pada lomba memanjat. Kategori yang di lombakan dalam panjat tebing • Lead (rintangan ) : merupakan kompetisi dimana pemanjat melakukan pemanjatan cincin kait di kaitkan dilakukan secara berurutan sesuai peraturan ,jarak terpanjang pada sumbu pemanjatan menentukan posisi pemanjat dalam satu babak.

4

• Speed (kecepatan) : pemanjat dilakukan secara top roop ( tali sudah dikaitkan di top sehingga pemanjat sudah berada dalam posisi aman ) merupakan kompetisi dimana pemanjat memerlukan kecepatan dalam memanjat

• Boulder (jalur pendek ) : dikategori ini pemanjat harus pintar membaca jalur dan harus barani mengambil keputusan untuk memanjat dikategori ini karena banyak gerakan statis dan dinamis , pemanjat melakukan pemanjatan tanpa menggunakan tali hanya ada matras di bawah untuk mengamankan pemanjat apabila terjatuh.

b. Free Soloing Merupakan bagian dari free climbing, tetapi sipendaki benar-benar melakukan dengan segala resiko yang siap dihadapinya sendiri.Dalam pergerakannya ia tidak memerlukan peralatan pengaman. Untuk melakukan free soloing climbing, seorang pendaki harus benar-benar mengetahui segala bentuk rintangan atau pergerakan pada rute yang dilalui. Bahkan kadang5

kadang ia harus menghapalkan dahulu segala gerakan, baik itu tumpuan ataupun pegangan, sehingga biasanya orang akan melakukan free soloing climbing bila ia sudah pernah mendaki pada lintasan yang sama. Resiko yang dihadapi pendaki tipe ini sangat fatal sekali, sehingga hanya orang yang mampu dan benar-benar professional yang akan melakukannya.

c. Aid (Artificial) Climbing Pemanjatan tebing dengan bantuan peralatan tambahan, seperti paku tebing, bor, stirrup, dll. Peralatan tersebut harus digunakan karena dalam pendakian sering sekali dihadapi medan yang kurang atau tidak sama sekali memberikan tumpuan atau peluang gerak yang memadai.biasanya pada tehnik pemanjatan ini, pemanjat menggunakan secara langsung peralatan untuk menambah ketinggian pemanjatannya. Biasanya digunakan pada pembuatan jalur.

VIII. Sistem Pemanjatan a. Alpine Tactics Sistem Pemanjatan yang ditempuh dengan tujuan mencapai puncak dengan membawa seluruh prlengkapan dan Peralatan pemanjatan biasanya climber bermalam diatas tebing/Flying Camp, tanpa kembali lagi ke shelter induk. Biasanya pada sistem ini seorang climber harus mempunyai kemampuan khusus dalam penguasaan tehnik-tenhik pemanjatan karena resiko pemanjatannya sangat tinggi. b. Himalayan Tactics Sistem pemanjatan yang dilakukan setahap demi setahap hingga mencapai puncak tanpa membawa seluruh perlengkapannya dan pemanjat kembali ke shelter induk.

IX. Langkah-langkah Pemanjatan A. Penentuan jalur. Dalam pemilihan jalur harus berdasar pada data yang telah ada, baik melalui literatur, imformasi, serta pengamatan langsung atau orientasi jalur. Dimana hal-hal dalam orientasi jaluryang berguna dalam pemanjatan antara lain: 6

Mengetahui tinggi medan,jenis batuan, macam pitch yang akan dipanjat. Menentukan posisi awal pemanjatan. Menentukan jenis alat pengaman yang akan digunakan. Mengatur penempatan ancor, pergantian leader untuk hanging belay dan hanging bivaak.

B. Pembagian personel. Pembagian personel harus berdasarkan pada :     

Jumlah personelnya Kemampuan personel Jalur yang ditentukan Sistem pemanjatan Ketersediaan peralatan

C. Persiapan peralatan Macam-macam peralatan yang digunakan harus disesuaikan dengan jalur yang dipilih, dan disusun rapi dan sistematis. Faktor yang mempengaruhi pemakaian alat :    

Jenis batuan Kemampuan batuan Cacat batuan Pengaman yang tersedia

D. Persiapan pemanjatan Setelah semua siap, baik peralatan, leder, belayer maka pemanjatan dapat dimulai. Hal yang penting dalam pemanjatan beregu yaitu komunikasi antar pemanjat baik leader maupun belayer yang menggunakan bentuk komunikasi. Ada dua bentuk yaitu melalui bahasa dan isyarat. Komunikasi bahasa digunakana apabila antara leader dan belayer masih dalam jangkauan teriakan. Komunikasi isyarat banyak digunakan bila antara leader dan bilayer sudah tidak dalam jangkauan teriakan. Dalam kenyataanya dilapangan komunikasi isyarat lebih menguntungkan sebab irit energi dan mudah pemakaiannya. 7

1. Pemanjatan Dalam pemanjatan ini, leader melakukan pitch 1 dengan membawa dua rol tali sekaligus. Satu sebagai tali utama (yang akan diikatkan pada raner) dan tali tambat (fixet rope). Dalam fixet rope inidapat juga sebagai transport antara leader dan personil yang ada dibawahnya.

2. Cleaning Setelah leader menyelesaikan pitch 1 dan memberitahu bahwa pemanjat kedua siap dan boleh naik. Personel kedua melakukan jumaring dan sekaligus menyapu runner yang telah dipasang leader.

Keuntungan jumaring pada fixet rope yaitu : 

Tali dalam keadaan lurus vertikal sehingga tidak terjadi pendulum



Tali tidak tertambat pada runner yang akan diambil sehingga memudahkan pengambilan



Gerakan lebih bebas

Agar cleaner tidak terlalu jauh dengan runner yang akan dilepas, maka antara tali utama dengan fixet rope harus dihubungkan. Macam tugas cleaner : a. Membersihkan jalur dan menyapu runner b. Mencatat pengaman yang digunakan berikutnya c.

Sebagai leader untuk pitc berikutnya

d. Membawa tali untuk pemanjatan 3. Pemanjatan untuk pitch 2 dan selanjutnya Pemanjatan berikutnya dilakukan apabila setelah cleaner sampai di pitch 1. Pada pitch 2 ini cleaner menjadi leader dan yang tadi sebagai leader berganti sebagai belayer. Sementara itu personel yang ada dibawah naik dengan jummaring, bila kondisi memungkinkan gerakan personil dibawah dapat dilakukan dalam waktu yang bersamaan dengan leader pada pitch 2, yang hanya perlu diwaspadai adanya runtuhan batuan, terutama pada gerakan leader. Untuk pemanjatan selanjutya pada pitch selanjutnya prosedurnya sama seperti diatas.

8

4. Turun tebing Turun tebing dilakukan apabila pemanjat sudah sampai puncak dan menyelesaikan target yang telah ditentukan. Cara yang digunakan yaitu dengan reppeling. Untuk reppling perlu dibuat ancor sebagai penambat tali. Setelah tali terpasang maka reppling siap dilakukan. Reppling dapat dilakukan dengan tali tunggal atau ganda (doubel). Biasanya personel yang paling akhir menggunakan doubel rope dan tali hanya dikalungkan pada anchor, agar tali tersebut dapat ditarik ke bawah, begitu seterusnya untuk setiap pitch.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam reppling : 

Ujung bawah tali harus disimpul



Tali antar pitc harus selalu dihubungkan



Waspada terhadap runtuhan batuan

5. Dasar tebing Setelah semuanya pemanjat turun, maka yang harus dilakukan adalah pendataan dan pengecekan semua peralatan yang dipakai. 6. Pembuatan topo atau data Topo adalah merupakan gambar atau sket jalur yang berhasil dipanjat. Dalam pembuatan sket ini dilengkapi dengan data sebagai berikut :

a.

Nama jalur yang dipanjat

b.

Lokasi tebing

c.

Jenis batuan

d.

Tinggi tebing

e.

Sistem pemanjatan

f.

Teknik pemanjatan yang diterapkan

g.

Waktu pemanjatan

h.

Tingkat kesulitan ( grade ) 9

i.

Data peralatan yang digunakan

j.

Sketsa jalur pada tebing

k.

Operasional dan kondisis cuaca

l.

Daftar pemanjat

X. ALAT – ALAT PEMANJATAN Alat-alat yang diguanakan dalam pemanjatan : 1. Tali carmentel Biasanya yang digunakan adalah tali yang memiliki tingkat kelenturan atau biasa disebut dynamic rope. Secara umun tali di bagi menjadi dua macam yaitu :

– Static adalah tali yang mempunyai daya lentur 6% – 9%, digunakan untuk tali fixed rope yang digunakan untuk ascending atau descending. Standart yang digunakan adalah 10,5 mm.

-Dynamic adalah tali yang mempunyai daya lentur hingga 25%, digunakan sebagai tali utama yang menghubungkan pemanjat dengan pengaman pada titik tertinggi.

10

2. Climbing Shoes Climbing shoes untuk panjat tebing maupun panjat dinding memiliki kesamaan fungsi, yaitu untuk membantu pemanjat untuk berpijak pada permukaan vertikal, dan melindungi kaki dari tajamnya bebatuan maupun gesekan bebatuan yang kasar selain itu sol sepatu yang dipergunakan merupakan karet khusus sehingga memungkinkan untuk berpijak pada permukaan yang halus. Ada dua jenis sepatu yang digunakan dalam pemanjatan : •Sepatu yang lentur dan fleksibel(soft). Bagian bawah terbuat dari karet yang kuat. Kelenturannya menolong untuk pijakan-pijakan di celah-cleah. •Sepatu yang tidak lentur/kaku(hard) pada bagian bawahnya. Misalnya combat boot. Cocok digunakan pada tebing yang banyak tonjolannya atau tangga-tangga kecil. Gaya tumpuan dapat tertahan oleh bagian depan sepatu.

3. Chalk bag/Kantung kapur, merupakan sebuah tas kantung untuk menampung bubuk magnesium karbonat, yang membantu pemanjat mengurangi kelembapan pada telapak tangan ketika melakukan pemanjatan, sehingga dapat membuat pegangan pemanjat tetap stabil.

11

4. Sling sangat bermanfaat pada panjat tebing maupun panjat dinding, sling dapat digunakan sebagai runners, back up maupun menjadi bagian pengaman lainnya. Sling dibagi menjadi dua macam, sling prusik dan sling webbing, untuk panjang dan diameter sling memiliki banyak variasi. Ada 3 jenis tipe sling : a.

Sling Webing

b.

Sling Prusik

c.

Here Loop

5. Body harness, merupakan peralatan panjat yang dikenakan pada tubuh. Body harness biasa digunakan untuk rescue dan flying fox . body harness membantu penggunanya untuk tetap dalam posisi duduk.

12

6. Sit harnes merupakan peralatan yang dikenakan oleh pemanjat untuk di kenakan pada pinggang dan memiliki banyak fungsi. seperti,mengaitkan body pemanjat pada tali pengaman. benda ini juga merupakan tempat dimana alat-alat panjat seperti piton, sling, carabiner, chock , maupun peralatan lain yang dibutuhkan.

7. Alat penambat / Belay Device dipergunakan untuk mengamankan pemanjat dari jatuh ketika melakukan pemanjatan

8. Sarung tangan akan melindungi tangan bagi belayer ketika mengamankan pemanjat maupun rapler dari bahaya gesekan telapak tangan dengan tali pengaman.

13

9. Hammer/palu sangat dibutuhkan untuk pemasangan pengaman buatan berupa piton pada panjat tebing, cara membawa hammer akan lebih mudah bagi pemanjat jika tali pada hammer disilangkan pada bahu pemanjat.

10. Carabiners,. Carbiner / Cinci Kait Berfungsi sebagi alat yang menghubungkan peralatan yang satu dengan peralatn yang lainya, sehingga sewaktu dilepas akan lebih memudahkan, Carbiner ini dibagi dalam beberapa bentuk, seperti Carbiner Oval, Delta, Screw (Ulir), Non Screw dan Otomatis.

11. Quickdraw/runner merupakan gabungan antara prusik dan dua buah carabiner. Biasanya digunakan untuk menjadi bagian penyambung antara chocks, friends, tricams, bolts ataupun pitons terhadap tali carnmantel.

14

12. Hand ascender merupakan peralatan yang digunakan untuk membantu pemanjat dalam menaiki tebing dan bertumpu pada bantuan tali, secara otomatis hand ascender maupun jenis ascender lainnya akan mencatut tali jika diberi beban dan akan mudah digeser jika tidak memiiki beban.

13. Ascender handle juga merupakan jenis ascender. Ascender handle merupakan pengembangan dari hand ascender dengan fungsi yang dimiliki kurang lebih sama

15

14. Rigger plate berfungsi sebagai plat conector dari anchor point ke lintasan, karena dalam beberapa kasus dibutuhkan beberapa lintasan dalam satu anchor point fix. Rigger plate terdiri dari sebuah plat yang memiliki beberapa lubang, yang dapat ditempati oleh lebih dari 2 pengaman.

15.Edge Rollers Merupakan pelindung tali yang didesign untuk mencegah terjadinya gesekan antara tali dengan sudut bidang, dinding batu, dan sebagainya.

16

16. Padding berfungsi untuk memberi perlindungan pada tali dari gesekan benda tajam, seperti gesekan tali dengan sudut tebing, dinding,dll. Padding terbuat dari bahan terpal, canvas, matras, karet tebal yang tahan terhadap gesekan.

17.Cams/ friends/ spring loaded camming device (SLCD) Friends merupakan salah satu jenis pengaman sisip yang digunakan dalam panjat tebing, anda dapat menarik tuas baja yang membuat bagian ujung friends menyempit dan melepaskannya pada celah yang diinginkan. Friends sangat fleksible, karena dapat digunakan pada berbagai ukuran celah/rongga.

17

18. Pitons merupakan pengaman yang ditancapkan pada rongga-rongga tebing, piton memiliki empat jenis yaitu Bongs, Bugaboons, Knife-blades dan Angle.

19. Nuts/Chock friends merupakan jenis pengaman sisip yang dimana cara penggunaannya dengan menyelipkan nuts pada sebuah rekahan yang sesuai. Nuts/Chock friends memiliki ukuran yang berbeda-beda untuk itu nuts biasanya tersedia dalam set.

20. Hexes/chock hexentris memiliki fungsi yang sama dengan nuts tetapi hexes berbentuk tabung segi enam. Hexes tetap memiliki kekuatan yang baik walaupun agak sulit dalam penggunaannya. Hexes tersedia dalam beberapa ukuran.

18

21. Tricams merupakan pengaman sisip selanjutnya. walaupun berbeda bentuk, tetapi fungsinya sama dengan nuts dan hexes. Pemakaiannya relatif sulit, tidak dianjurkan dipakai untuk pemula.

22. Figure eight/figur delapan peralatan ini termasuk salah satu Descender adalah alat bantu yang digunakan untuk menuruni medan vertical dan tali sebagai jalur. Bentuknya menyerupai angka 8, ukuran dan bentuknya bermacam-macam, strength rate 3000 kg., menggunakan alat ini menyebabkan puntiran pada tali salah satu kelemahan alat ini ketika digunakan.

19

23 Autostop berfungsi sebagai desender dan ini di-design untuk pengereman automatis,

24. Helmet adalah pelindung kepala yg melindungi kepala dari benturan dari benda-benda yang terjatuh dari atas.

25. Webbing peralatan panjat yg berbentuk pipih tidak terlalu kaku dan lentur, biasa digunakan sebagai harnest dll.

26. Hanger 20

Berbentuk pipih kupingan yang di pasang pada tebing yang sudah di bor yang berfungsi sebagai anchor untuk pengaman pada waktu pemanjatan. Biasanya digunakan untuk tebing yang blank, artinya tebing yang akan dipanjat sedikit memilki natural anchor.

27. skyhook Sebagai pengaman sementara dengan prinsip kerja menyisipkan ujung sky hook pada celah bebatuan dan harus terbebani, usahakan meminimalkan gerak.

21

22

XI. safety pemanjatan A. Belaying Dalam pemanjatan tebing, orang yang pertama kali manjat disebut “leader”, sedangkan orang kedua yang melakukan pengamanan terhadap pemanjatan pertama disebut “Belayer”. Leader pemanjat pertama ini, memajat dengan pengamanan dari orang kedua (belayer) dengan systembelaying yang terdiri dari tali dan ranner(raning bilay). Runner atau ranning belay adalah pengaman untuk mengurangi bahaya jatuh. Sedangkan untuk Belaying adalah suatu cara pengamanan untuk mengurangi bahaya jatuh pada waktu melakukan pemanjatan.

Yang harus diperhatikan dalam melakukan belay atau pengamanan : - Belayer harus melihat gerakan leader sedapat mungkin. Hal ini dilakukan untuk memperlancar gerakan leader dalam menambah ketinggian dan dapat secepat mungkin mengantisipasi keadaan apabila leader terjatuh pada pemanjatan. - Belayer harus memasang pengaman untuk dirinya dirinya sendiri sebelum melakukan belaying. Hal ini sangat penting apabila belayer mengantisipasi jatuhnya leader, dimana ia mendapat beban tambahan dan sentakan darin leader yang terjatuh. Sedangkan pengaman untuk belayer sendiri minimal dua buah. Sebagai penutup dari uraian singkat mengenai systim belaying ini, maka perlu dijelaskan secara internasional yang memakai istilah bahasa inggris untuk menghindari kemungkinan salah paham antara belayer dengan pemanjat atau leadernya, yaitu : : “On belay” (Saya akan memanjat, Apakah belaying sudah siap?)

-

Pemanjat

-

Belayer

: “Belay on” (Saya sudah siap)

-

Pemanjat

: “Climbing” ( Saya mulai memanjat )

-


Similar Free PDFs