PERTANIAN, BANGKIT ATAU BANGKRUT? PDF

Title PERTANIAN, BANGKIT ATAU BANGKRUT?
Author Made Antara
Pages 128
File Size 1.6 MB
File Type PDF
Total Downloads 937
Total Views 996

Summary

PERTANIAN, BANGKIT ATAU BANGKRUT? Made Antara buku arti Arti Foundation Prakata Penulis ejak jurnal SOCA terbit November 2000, Dewan Redaksi memu- tuskan setiap edisi disertai kata pengantar. Lambat laun muncul pemikiran untuk memberi tema atau judul untuk pengantar yang mewakili naskah-naskah yang ...


Description

PERTANIAN, BANGKIT ATAU BANGKRUT?

Made Antara

buku arti

Arti Foundation

Prakata Penulis

PERTANIAN, BANGKIT ATAU BANGKRUT? © Made Antara

Penerbit

Arti Foundation Jl. Pulau Kawe 62 Denpasar 80222 Telp. & Faks : 0361 264089 e-mail : [email protected]

Sampul Ketut Pangus

Pracetak Nyoman Krining

Cetakan Pertama, Juli 2009 ISBN : 978-979-1145-31-2

Diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Bali

ejak jurnal SOCA terbit November 2000, Dewan Redaksi memutuskan setiap edisi disertai kata pengantar. Lambat laun muncul pemikiran untuk memberi tema atau judul untuk pengantar yang mewakili naskah-naskah yang diturunkan pada setiap edisi. Jadi, tema atau topik setiap pengantar tidak ditentukan terlebih dahulu, tetapi dirumuskan dan dianggap mewakili naskah-naskah yang diturunkan pada edisi bersangkutan. Saya, yang menjabat Ketua Dewan Redaksi, dipercaya untuk menuliskan kata pengantar tersebut setiap edisi. Seiring perjalanan waktu, jurnal SOCA yang diterbitkan oleh Jurus­ an Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana, mengalami kedewasaan, dan redaksi juga mengalami kematangan dan kemantapan dalam penulisan kata pengantar. Tema-tema pun dirasakan oleh pembaca semakin substantif, komunikatif, dan informatif. Sejak tahun 2004 SOCA terbit 3 kali setahun, sehingga sampai akhir tahun 2008, jurnal SOCA sudah memiliki pengantar relatif banyak, dengan tema beraneka ragam. Pembaca memberi masukan dan dorongan agar menggabungkan dan menerbitkan pengantar-peng­ antar tersebut menjadi sebuah buku. Akhirnya terhimpun pengantarpengantar tersebut, yang bagaikan butir-butir tercecer dibuang sayang, menjadi sebuah buku. Pengantar setiap edisi yang dikumpulkan dalam buku ini, tidak selalu murni pemikiran redaksi. Tidak jarang tulisan itu diilhami oleh atau bersumber dari beberapa buku teks atau naskah-naskah yang diwakilinya pada edisi bersangkutan, dan diperkaya dengan informasi dan teknologi dari internet. Bermaksud tidak menimbulkan kekakuan dalam pemaparan substansi, maka penulis tidak secara langsung mencantumkan sumber-sumber kutipan pada badan teks. Sumber dan acuan tulisan dihimpun jadi satu di bagian akhir. Buku kumpulan pengantar jurnal SOCA tahun 2001- 2009 ini, ditam­bah beberapa pokok bahasan yang bersumber dari bahan ajar penulis pada kelas Magister Agribisnis, membahas kondisi pertanian agribisnis dan masalahnya disertai jalan keluar. Penulis percaya, penerbitan buku ini berkat kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Untuk itu puji dan syukur penulis panjatkan. Penulis meMade Antara

iii

nyampaikan terima kasih kepada pembimbing disertasi penulis di Ins­ titut Pertanian Bogor, Prof.Dr.Ir. Bungaran Saragih, M.Ec., yang telah memberi penulis inspirasi dalam ilmu agribisnis. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Dr. W. David Downey dan Dr. Steven P. Erickson, keduanya guru besar ekonomi pertanian/agribisnis di Purdue University AS. yang telah mengilhami penulis ilmu manajemen agribisnis. Kepada Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Bali dan pekerjapekerja yang gigih dalam program Widya Pataka, penulis sampaikan terima kasih, karena dengan sungguh-sungguh terlibat dalam merancang sampai menerbitkan buku ini. Terima kasih penulis sampakan kepada Gde Aryantha Soethama dari penerbit Buku Arti (Arti Foundation), atas dorongan dan bantuan material dan immaterial, sehingga buku ini dapat terbit. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada pihak-pihak yang secara langsung dan tidak langsung membantu penerbitan buku ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Ida yang Widi Wasa, membalas se­ mua kebaikan tersebut. Semoga pembaca memperoleh manfaat usai membaca buku ini. Denpasar, Juli 2009 Made Antara

Daftar Isi Prakata Penulis.........................................................................

iii

Pertanian Berwawasan Agribisnis 1. Agribisnis Visi Pembangunan Pertanian........................ 2. Profil Agribisnis Indonesia............................................ 3. Agribisnis dan Pembangunan Ekonomi......................... 4. Agribisnis danPerekonomian Rakyat............................. 5. Strategi Pemasaran Produk Agribisnis........................... 6. Kemitraan Agribisnis..................................................... 7. Strategi Perusahaan Agribisnis....................................... 8. Agribisnis Lada............................................................. 9. Agribisnis Sapi Potong..................................................

2 13 37 45 49 62 74 82 90

Pertanian, bangkit atau bangkrut 10. Revitalisasi Pertanian, Kebangkitan atau Kebangkrutan 11. Konversi Lahan dan Produksi Pangan ........................ 12. Pemanfaatan Sarana Produksi Tidak Efisien................. 13. Petani Miskin, Bangsa Miskin....................................... 14. Tenaga Kerja Pertanian................................................. 15. Daya Saing Jagung........................................................

100 110 123 131 140 150

Pertanian dalam Kerangka Makro 16. Tarif Impor dalam Perdagangan Internasional.............. 17. UKM dalam Perekonomian Nasional........................... 18. Ekonomi dan Degradasi Lingkungan............................ 19. Perencanaan Pembangunan Regional............................ 20. Revitalisasi Kelembagaan Pertanian.............................. 21. Tranformasi Struktural dan Kesempatan Kerja.............. 22. Pangan Organik, Potensi dan Peluang Ekspor............... 23. Etika Bisnis dalam Pengembangan Iptek.......................

156 161 166 175 184 193 202 215

Daftar Bacaan........................................................................... 240 Tentang Penulis......................................................................... 249

iv

Pertanian, Bangkit atau Bangkrut?

Made Antara



Pertanian Berwawasan Agribisnis

Made Antara



Agribisnis Visi Pembangunan Pertanian enjelang Pelita IV sekitar 1980-an, istilah agribisnis tiba-tiba populer dalam wacana pembangunan ekonomi Indonesia. Masalahnya berawal ketika negara mengalami kesulitan dalam neraca pembayaran akibat anjloknya harga minyak dan gas bumi. Perekonomian Indonesia ketika itu mengandalkan penerimaan dalam APBN dari minyak dan gas bumi. Pada saat yang sama pendapatan minyak dan gas bumi mengalami kemunduran. Dalam usaha mempertahankan momentum pembangunan yang konon telah diraih, berbagai kebijakan pembangunan diambil oleh pemerintah Orde Baru. Seluruh masyarakat diminta mengencangkan ikat pinggang alias berhemat-hemat. Sementara harga-harga terus merayap naik. Untuk menarik dana dari luar negeri dan memobilisasi dana masyarakat pemerintah mengeluarkan kebijakan 1 Juni 1983 dalam bidang Perbankan dan reformasi pajak. Terobosan yang coba diambil pemerintah adalah mencari komoditi ekspor alternatif untuk mengganti atau sekurang-kurangnya mengambil sebagian peranan minyak dan gas bumi sebagai penghasil devisa. Akhirnya berpalinglah kepada bidang agribisnis yang dahulu memang kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memberi prioritas tertinggi bagi penanaman modal di bidang agribisnis. Bahkan pada kunjungan resmi beberapa pejabat Indonesia ke Amerika Serikat (AS) dalam rangka promosi penanaman modal, dalam Daftar Skala Prioritas Investasi, bidang agribisnis menduduki urutan pertama dari empat jenis proyek yang ditawarkan kepada pemilik modal di AS. Memang menggiatkan bidang agribisnis bukan satu-satunya terobosan yang ditawarkan, tetapi satu alternatif yang diharapkan dalam jangka menengah dan jangka panjang mampu memperingan keadaan. Krisis moneter yang diikuti oleh krisis ekonomi menimpa Indonesia sejak Juli 1997. Krisis ini menyebabkan perekonomian Indonesia porak-poranda. Depresiasi nilai rupiah atau apresiasi dollar dari Rp 2400/$ tahun 1996 menjadi Rp 15.000/$ tahun 1998 telah menyebab

Pertanian, Bangkit atau Bangkrut?

kan inflasi sampai mencapai 75 persen tahun 1998. Pendapatan riil masyarakat menurun drastis. Pabrik-pabrik yang berbahan baku impor banyak tutup. Pengangguran meningkat luar biasa dan jumlah rakyat miskin bertambah banyak. Namun dibalik krisis yang menerpa perekonomian Indonesia, ada satu sektor yang masih tetap tegar. Bahkan berjaya karena menangguh berkah dari situasi krisis. Sektor itu adalah agribisnis dengan jantung penggeraknya adalah sektor pertanian dalam arti luas. Depresiasi nilai rupiah menyebabkan produk-produk agribisnis Indonesia sangat kompetitif di pasar Internasional dan harga-harga di dalam negeripun ikut merayap naik sampai mencapai 5 kali lipat dari harga sebelum krisis. Petani dan pelaku-pelaku agribisnis lainnya meraih keuntunagan luar biasa. Bahkan ada celetukan yang bernada guyon dari mereka, “mudah-mudahan krisis ekonomi tidak cepat berlalu”.

Sistem Agribisnis Beberapa faktor yang mempengaruhi visi pembangunan dan usaha agribisnis adalah amanat GBHN 1999-2004, kekuatan dan kelemahan pembangunan di masa lalu, perubahan-perubahan lingkungan global, serta menyadari tantangan ke depan. Visi pembangunan sistem dan usaha agribisnis yang akan dipromosikan secara nasional itu adalah Terwujudnya perekonomian nasional yang sehat melalui pembangunan agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan, dan desentralistis. Agribisnis berasal dari kata Agribusiness, di mana Agri=Agriculture artinya pertanian dan Business artinya usaha atau kegiatan yang menghasilkan keuntungan. Jadi secara sederhana Agribisnis (agribusiness) didefinisikan sebagai usaha atau kegiatan pertanian dan terkait dengan pertanian yang berorientasi pada keuntungan. Jika didefinisikan secara lengkap agribisnis adalah kegiatan yang berhubungan dengan penanganan komoditi pertanian dalam arti luas. Kegiatan itu meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata rantai produksi, pengolahan masukan dan keluaran produksi (agroindustri), pemasaran masukan-keluaran pertanian dan kelembagaan penunjang kegiatan. Yang dimaksud dengan berhubungan adalah kegiatan usaha yang menunjang kegiatan pertanian dan kegiatan usaha yang ditunjang oleh kegiatan pertanian. Apabila mata rantai kegiatan agribisnis dipandang dalam suatu konsep sistem, maka mata rantai kegiatan tersebut dapat dibagi menjadi empat subsistem yaitu: (1) subsistem produksi, (2) subsistem Made Antara



pengo­lahan (agroindustri), (3) subsistem pemasaran, dan (4) subsistem lembaga penunjang (Gambar Sistem Agribisnis halaman 5). Keempat subsistem ini mempunyai kaitan yang erat, sehingga gangguan pada salah satu subsistem atau kegiatan akan berpengaruh terhadap subsistem atau kelancaran kegiatan dalam bisnis. Agribisnis dalam pengertian seperti tersebut menunjukkan adanya keterkaitan vertikal antar subsistem dan keterkaitan horizontal dengan subsistem lain di luar pertanian. Subsistem di luar pertanian itu seperti jasa-jasa (finansial dan perbankan, koperasi, transportasi, perdagangan, pendidikan dan lain-lain). Keterkaitan luas ini sudah disadari sejak dahulu oleh ekonom pasca-revoluasi industri. Ekonom pasca-revolusi menekankan arti strategis penempatan pertanian (dan pedesaan) sebagai bisnis inti (core business) pada tahap pembangunan sebelum lepas landas terutama dalam kaitannya dengan proses industrialisasi Agribisnis merupakan cara baru melihat pertanian. Dulu pertanian dilihat secara sektoral, sekarang harus dilihat secara intersektoral. Dulu pertanian dilihat secara subsistem, sekarang harus dilihat secara sistem. Dulu pertanian berorientasi produksi. Sekarang pertanian harus berorientasi bisnis. Apabila agribisnis usahatani dianggap sebagai subsistem, maka ia tidak terlepas dari kegiatan atau subsistem agribisnis non usahatani seperti subsistem pengolahan (agroindustri hulu dan hilir), subsistem pemasaran input-output dan subsistem lembaga penunjang. Untuk itu, agribisnis jangan dicari ke mana-mana karena agribisnis hanya cara baru melihat pertanian, inilah visi ke depan. Dengan demikian bidang agribisnis merupakan kegiatan lebih dari sekedar pertanian (on-farm), karena di dalamnya mencakup kegiatankegiatan lain yang mewakili sektor di luar pertanian (off-farm). Karena itu penting disadari bahwa setiap usaha untuk melakukan analisis sektoral bagi subsistem baru akan memiliki makna dan memberikan peranan yang bermanfaat apabila dikaitkan satu sama lain dan berorientasi pada konsep sistem. Memahami timbulnya kaitan antara tiap subsistem, siapa pelaku dalam tiap subsistem, dan bagaimana teknologi yang digunakan merupakam hal yang sangat penting untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi agribisnis dan mencari alternatif pemecahannya. Pada setiap subsistem agribisnis terdapat beraneka ragam dan jutaan aktivitas atau kegiatan berorientasi bisnis (keuntungan). Mulai dari usaha mikro, kecil, menengah (UMKM), dan usaha besar yang berskala lokal dan nasional sampai perusahaan multinasional (Multi 

Pertanian, Bangkit atau Bangkrut?

PEMASARAN/ PERDAGANGAN • Perdagangan Domestik • Perdagangan Internasional

AGROINDUSTRI HULU (Upstream) • Benih • Pupuk • Pakan • Pestisida • Alat T dan Mesin • Obat-Obatan • Teknologi

USAHATANI (On-Farm) -• Pangan • Hortikultura • Kebun • Ternak • Ikan budidaya/ penangkapan

AGROINDUSTRI HILIR (Downstream) • Pasca panen • Pasca panen lanjutan

LEMBAGA PENUNJANG PRASARANA • Jalan - • Jalan • Jembatan • Dll.

ORGANISASI • Perkreditan • Penyuluhan • Koperasi • Penelitian • Peraturan Pemerintah • Dll.

= Keterkaitan dua arah (saling menunjang/membutuhkan/terkait)

Gambar SistemAgribisnis Agribisnis Gambar 1. Sistem

National Dengan Corporation, agribisnis demikianMNC) bidang seperti agribisnisperusahaan merupakan kegiatan lebih Monsanto dari atausekedar perusahaan benih Cargill atau perusahaan bibit dan pakan ternak pertanian (on-farm), karena di dalamnya mencakup kegiatan-kegiatan lain yang mewakili sektor di luar pertanian (off-farm). Karena itu penting Charoen Phokpand. Agar setiap aktivitas mencapai keberhasilan, maka memerlukan pengorganisasian yang baik. Pengorganisasian yang baik adalah organisasi yang menerapkan unsur-unsur manajemen. Jadi, manajemen agribisnis adalah penerapan unsur-unsur dan ilmu manajemen dalam organisasi agribisnis, sehingga aktivitas agribisnis dapat mencapai tujuan organisasi. Misalnya efisiensi alokasi sumberdaya, biaya minimal, keuntungan maksimal, perluasan kesempatan kerja, peningkatan produksi, memenangkan persaingan, perluasan wilayah pemasaran. Made Antara



Sektor agribisnis di dalam ruang lingkup ekonomi masa kini mencakup bermacam-macam usaha komersial, menggunakan kombinasi heterogen dari tenagakerja, bahan, modal, dan teknologi. Sistem bahan pangan dan sandang sangat luas sekali, suatu sistem yang sulit dan terus-menerus diubah agar sesuai dengan permintaan konsumen dan menyediakan bahan pangan dan sandang baik untuk domestik maupun pasar dunia. Kalau kita berjalan-jalan ke pasar swalayan setempat, kita akan melihat berbagai macam produk hasil dari bermacam kegiatan. Diantaranya, produksi, pengolahan, pengemasan dan kemudian memajangnya pada rak-rak penyimpanan agar konsumen tertarik untuk mencoba membelinya. Hal ini adalah hasil kerja keras yang efisien banyak orang di dalam suatu sistem agribisnis yang mencakup kegiatan produksi, agroindustri, pemasaran, dan subsistem lembaga penunjang bahan pangan tersebut.

Subsistem Usahatani Subsistem usahatani (on-farm agribusiness) yakni kegiatan yang menggunakan barang-barang modal dan sumberdaya alam untuk menghasilkan komoditi pertanian primer. Termasuk dalam hal ini adalah usahatani tanaman pangan dan hortikultura, usahatani tanaman obat-obatan, usahatani perkebunan, dan usahatani peternakan, usaha perikanan dan usaha kehutanan, menghasilkan bahan pangan, hasil perkebunan, buah-buahan, bunga dan tanaman hias, hasil ternak, hewan, ikan dan sebagainya. Pelaku-pelaku kegiatan pada subsistem ini adalah produsen-produsen yang terdiri dari petani, peternak, pengusaha kecil dan menengah seperti pengusaha tambak, pengusaha tanaman hias, dan sebagainya. Pada saat ini jumlah petani penghasil bahan pangan dan perkebunan rakyat ditaksir tidak kurang dari 20 juta orang. Mereka dibantu oleh anggota keluarganya yang terdiri rata-rata 5 orang. Tempatnya tersebar di seluruh pelosok tanah air dan sebagian besar masih bekerja dengan teknologi produksi yang masih sederhana. Produksi per satuan luas atau per satuan kerja masih rendah. Namun peranannya sebagai penghasil produk domestik bruto sektor pertanian sangat besar dibandingkan sektor lainnya. Subsistem Pengolahan Subsistem pengolahan atau agroindustri (off-farm agribusiness) dibe

Pertanian, Bangkit atau Bangkrut?

dakan menjadi dua yakni, agroindustri hulu (upstream) dan agroindustri hilir (downstream). Subsistem agroindustri hulu (upstream agribusiness) yakni industri-industri yang menghasilkan barang-barang modal bagi usahatani atau pertanian (arti luas). Diantaranya, industri perbenihan/pembibitan tumbuhan dan hewan, industri agrokimia (pupuk, pestisida, obat/vaksin ternak) dan industri agro-otomotif (mesin dan peralatan pertanian) serta industri pendukungnya. Contoh jenis agroindustri ini antar lain: Paberik Pupuk PUSRI menghasilkan pupuk. Industri benih Perum Sang Hyang Seri menghasilkan benih padi dan palawija. Pabrik-pabrik traktor dan peralatan mesin lainnya untuk menunjang proses produksi. Charoen Phokpand menghasilkan pakan dan bibit ternak. Monsanto AS. menghasilkan benih/bibit tanaman yang bertaraf internasional. CIBA menghasilkan berbagai jenis obatobatan (pestisida, fungsida, herbisida) pemberantas hama dan penyakit tanaman. Subsistem agroindustri hilir (downstream agribusiness) yakni industri yang mengolah komoditi pertanian primer menjadi produk olahan, baik produk antara (intermediate product) maupun produk akhir (final product). Termasuk di dalamnya industri makanan, industri minuman, industri barang-barang serat alam seperti barang-barang karet, plywood, pulp, kertas, bahan-bahan bangunan terbuat kayu, rayon, benang dari kapas/sutera, barang-barang kulit, tali dan karung goni, industri biofarmaka, dan industri agrowisata dan estetika. Pengolahan ubi kayu (ketela pohon) menjadi tapioka atau menjadi kripik singkong, industri pengolahan kelapa sawit dari tandan buah segar menjadi CPO (Crude Palm Oil) atau menjadi margarin, pengolahan kopi biji menjadi serbuk kopi, susu segar menjadi mentega, es krim, dsb. Agar subsistem usahatani (pertanian) menjadi kuat dan tangguh, kaitan dengan industri di hulu (agroindustri hulu) dan industri di hilir (agroindustri hilir) harus kuat, sehingga kebutuhan input tersedia setiap saat dalam jumlah dan waktu yang tepat, produk petani tertampung oleh industri-industri pengolahan bahan baku dengan harga yang wajar, dan para agroindustriawan memperoleh keuntungan yang layak, sebagai insentif bagi mereka untuk melakukan pengolahan. Jadi dalam agribinsis agar sistem stabil, maka semua subsistem atau pelaku-pelaku agribisnis harus memperoleh keuntungan yang layak. Jika salah satu subistem menjadi parasit terhadap subsistem lainnya, atau salah satu pelaku mengeksploitasi pelaku lainnya, maka akan menimbulkan keresahan sosial, akhirnya sistem menjadi tidak stabil. Made Antara



Contoh, agribisnis Cengkeh di era Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC), atau agribisnis Jeruk di Kalimantan Barat di bawah monopoli PT Citra Mandiri di era Orde Baru. BPPC telah menguntungkan lembaganya sendiri (subsistem pamasaran) dan merugikan subsistem lainnya yakni petani (subsistem produksi) dan pabrik rokok (subsistem agroindustri). Dalam hal ini BPPC telah berlaku sebagai monopsoni (pembeli tunggal) cengkeh petani dengan penetapan harga rendah yang berarti merugikan petani. BPPC juga berlaku sebagai monopoli (penjual tunggal) ke pabrik rokok dengan menetapkan harga tinggi, sehingga merugikan paberik rokok. Selisih harga penjualan ke pabrik rokok dan pembelian dari peta­ ni cengkeh telah...


Similar Free PDFs